Thanos Presiden Super

Gian Bakti, 27 Desember 2018

sumber gambar: knowyourmeme.com

“I teach you the superman.
Man is something to be surpassed.
What have you done to surpass man?”
                                - Friedrich Nietzsche, Thus Spoke Zarathustra.

       Apa yang membuat seorang Bruce Banner tidak mampu lagi mengeluarkan Hulk dari tubuhnya, yang selama ini kita kenal makhluk hijau itu tidak pernah takut untuk menghajar apapun. Jawabannya mungkin saja karena untuk pertama kali ia melihat sesosok penjahat yang tidak bisa ia hajar dengan serta merta. Bahkan saat di Asgard, keadaannya justru ia yang dihajar di depan anak-anak Odin. Di tengah semakin kaburnya pengertian villain dan hero tahun ini, Avengers: Infinity War memberitahu makhluk yang membuat Hulk takut itu bernama Thanos.


      Sebenarnya bagi para geeks komik Marvel tidak akan asing dengan sosok Thanos. Ia sangat kuat seperti supervillain yang lainnya, tapi tetap saja akan ada jalan untuk mengalahkannya di akhir film. Namun Infinity War tidak selesai dengan cara seperti itu. Bahkan pada akhirnya untuk sementara Thanos lah yang menang, ia berhasil memusnahkan setengah populasi semesta berkat kekuatan seluruh infinity stones yang ia kumpulkan. Lalu apa yang membuatnya berbeda? Padahal Marvel Cinematic Universe masih memiliki banyak makhluk yang lebih kuat semacam Galactus dan Dormammu.

Keseimbangan Semesta
       Sebenarnya bila kita sadar, keseluruhan alur film hanya mengikuti rencana demi rencana Thanos dalam mengumpulkan infinity stones. Kendati masih banyak superhero Marvel yang terlibat aksi menghentikan upaya Thanos tersebut, tetap saja upaya itu terkesan hanya memperlambat kemenangan Thanos di akhir cerita. Adalah The Dark Knight (2008) mungkin yang mengawali tren semacam ini, The Joker seakan diberi panggung untuk melakukan dan mengungkapkan kejahatannya pada warga Gotham City padahal Batman masih eksis disana sebagai pahlawan. The Joker pada DC Comics bukanlah penjahat konvensional yang hedonis, ia tidak berniat menguasai dunia. Ia juga tak mau bukit uang yang justru ia bakar di depan mata para mafia. Ada lebih dari tataran fisik yang ia inginkan. Ada pesan yang ingin ia sampaikan, bahwa setiap manusia ternyata memilki sisi gelap. Bahwa perdamaian adalah cita-cita utopis yang seharusnya ditentang sehingga menciptakan sebanyak mungkin chaos adalah keniscayaan. Tujuan inilah yang membuatnya mampu membunuh siapa saja, dan berkorban apapun demi tujuannya. Dan begitu pula Thanos, ia melihat hanya dirinya seorang yang mengerti tentang keseimbangan dunia. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kehancuran planet yang ia huni, akibat ditolaknya solusi untuk melenyapkan setengah populasi planet itu. Pengalaman itu yang menjadikan ia tidak akan lagi mendengarkan penolakan atas solusinya untuk menjaga keseimbangan semesta. Dan satu-satunya yang bisa melakukan tugas besar ini adalah dirinya.

sumber gambar: media.tenor.com

Seorang Übermensch
       Tujuan yang sudah melekat inilah yang menjadikan Thanos dan Joker berbeda, yang memang membuat kita ngeri membayangkan jika ada manusia seperti mereka. Dalam konsep Friedrich Nietzsche manusia yang unggul ialah manusia yang telah tersingkap pikirannya dari sekedar kebutuhan fisik. Übermensch secara harfiah dan linier memang bisa kita artikan sebagai superman, namun lebih dari itu übermensch adalah manusia yang telah memiliki seperangkat keyakinan yang ajeg atas dirinya, atas eksistensinya, dan sebelum itu ia telah menihilkan segala nilai-nilai di luar dirinya. Nilai-nilai itu tidak peduli baik atau buruk di hadapan masyarakat. Ini membuat keyakinan seorang übermensch tak akan terpengaruh oleh lingkungan, kendati sekuat apapun tekanannya. Seperti yang Nietzsche ungkapapan lewat Thus Spoke Zarathustra.
I appeal to you, my brothers, remain true to the earth, and do not believe those who speak to you of otherworldly hopes! Poisoners are they, whether they know it or not.
Manusia bisa menjadi übermensch ketika ia tak lagi takut dengan hidup, seorang übermensch akan menikmati detik-detik adrenalin dalam hidupnya dan bergembira dalam mengejar tujuan eksistensinya. Dan karena ia merasa unggul maka memperbudak manusia lainnya menjadi tak begitu berdosa. Dan untuk mendorong orang-orang mencapai keunggulan seperti dirinya, maka ia berkewajiban mengabarkan dan memberi adrenalin yang sama terhadap manusia yang lain, salah satunya lewat perang. Ini menjadi alasan kenapa Adolf Hitler membagikan Also Sprach Zarathustra pada masa Perang Dunia II. Bagi Batman dan Joker kisah kelam masa lalu mereka mungkin sudah cukup menjadikan mereka seorang übermensch dan hal itu pula yang diinginkan Christopher Nolan sebagai sutradara dan pembaca keras Friedrich Nietzsche. Bahkan Joker dengan bersemangat mendorong manusia lain menjadi unggul dengan menciptakan one bad day bagi mereka, salah satu yang paling mengerikan adalah yang menimpa Commissioner Gordon dan membuat episode itu dikenang sebagai episode komik Batman paling kontroversial: The Killing Joke. Dan serupa pula Bagi Thanos, kepedihan masa lalu itulah yang membuat ia bahkan rela mengorbankan satu-satunya makhluk yang ia sayangi yaitu anak perempuannya demi mendapatkan kekuatan untuk memusnahkan setengah populasi semesta.

sumber gambar: comixology.com

Perubahan Paradigma
       Pada saat The Dark Knight membuat Heath Ledger menerima Oscar berkat perannya yang luar biasa sebagai The Joker mungkin para penonton mulai merekonstruksi kembali pandangan mereka tentang konsep baik dan jahat. Walaupun kabar burung kematian Ledger selalu dikaitkan dengan terlalu melekatnya kepribadian Joker padanya selepas film berakhir, tapi tetap saja penonton sudah tidak akan mau lagi melihat ending film si baik mengalahkan si jahat dengan mudah dan naif. Kita bisa lihat justru setelahnya semakin banyak film yang bertemakan perbenturan nilai-nilai yang dianggap baik di masyarakat. Bahkan di dunia superhero, pahlawan-pahlawan dipaksa untuk bertarung satu sama lain, seperti pada Batman vs Superman: The Dawn of Justice (2016), atau Captain America: Civil War (2016), dan justru para villain dan antihero yang menjadi pemeran utama misalnya, Deadpool (2016), Venom (2018), dan The Joker (2019).
       Saat Thanos berhasil memusnahkan setengah populasi semesta demi tujuannya yang sebenarnya mulia kita pun menjadi agak ragu untuk menyangsikan perbuatannya, sebab Joker berhasil membuktikan pada kita sebaik apapun manusia mereka bisa membunuh seperti yang terjadi kepada Jaksa Gotham City yang malang Harvey Dent. Manusia hanya butuh dorongan kecil untuk melakukan hal itu: one bad day.

Pergeseran Nilai
       Bagi Thanos, manusia biasa yang lemah tidak akan mampu melakukan misi ini dan tujuannya itu tidak tergoyahkan. Ia telah menjadi übermensch, superman dalam konsep Nietzche. Lalu bagaimana keadaan Superman dalam kehidupan nyata? Penonton film melihat realitas yang memang membuat mereka limbung. Sebab penegak tertinggi kehakiman semacam Hakim Mahkamah Konstitusi pun kini di penjara, dan para pembela kebenaran dari mulai polisi lalu lintas hingga gubernur kini beberapa dengan nyaman menerima uang suap. Mulai ada pergeseran nilai yang membuat orang-orang semakin skeptis dan cerewet. Bukan karena dunia berubah, tapi karena keadilan tidak kunjung hadir di tengah masyarakat. Masyarakat menjadi mudah terhasut dan tertipu, apalagi misal di tengah mereka hadir penjahat berkekuatan super yang berjanji memberi mereka rasa aman. Misal übermensch semacam Thanos hadir di tengah masyarakat, bisa jadi tidak lama kemudian pengikutnya akan begitu banyak sebab rasa jengah pada ilusi-ilusi keadilan negara, pemerintahan, dan cerita kepahlawanan. Hal ini yang menjelaskan kenapa penipu ulung berkekuatan sihir semacam Thanos di akhir zaman akan banyak sekali pengikutnya, dan pembual lebih dipercaya dari pembawa kebenaran dewasa ini.

sumber gambar: geektyrant.com

Di penghujung tahun ini memang kita dihadapkan pada sebuah permasalahan, bahwa tidak dapat kita pungkiri masyarakat kita masihlah orang-orang yang mudah sekali terpatronase. Sehingga ajang pemilihan umum tidak pernah lagi menjadi arena tempat narasi bangsa bertarung, tapi hanya menjadi ajang penokohan dua orang yang bagi para pendukungnya mereka adalah adimanusia. Misal kita sepakati saja bahwa calon presiden kita keduanya adalah seorang übermensch, lantas apa yang bisa mereka lakukan, atau secara sederhana pesan apa yang mereka ingin sampaikan bagi wajah peradaban bangsa? Jika tidak ada, maka mafhumlah kita ternyata übermensch kini tidak lebih dari seorang petugas partai, atau eksekutor cukong-cukong, atau kroni bagi pemilik-pemilik modal. Kenyataannya memang seperti itu. Inilah yang membuat mungkin kenapa orang-orang begitu bergembira dengan kemenangan Thanos, mereka seakan lelah dengan fantasi-fantasi pada spanduk dan baliho yang dipaku di tepi jalan dan jembatan.
       Figuritas di satu sisi memang kadang dibutuhkan, tapi tetap saja bukan hanya popularitas yang membuat seseorang menjadi übermensch. Seperti kata Nietzche, kita perlu melihat bagaimana seorang manusia yang dianggap super ini telah mengatasi ‘manusia’ lainnya, tentu saja itu diawali dari keyakinan atas dirinya sendiri. Jika seorang yang dengan sadar memimpin sebuah negeri tetapi membiarkan masyarakatnya rungau akibat hutang berkedok investasi, serta kabinet yang telah banyak tangan yang ikut mengintervensi, dengan pasti masyarakat akan menilai ternyata orang yang dianggap übermensch ini tak lebih dari superhero medioker yang nantinya akan musnah bersama setengah populasi semesta lainnya di tangan Thanos. Begitu pula bukanlah manusia yang unggul orang yang saban hari kerjanya hanya mencaci tanpa menghadirkan solusi. Übermensch itu seperti Zarathustra yang akan pergi ke kantung-kantung terbodoh negeri ini dan memberikan pengajaran, dengan meminjam kata-kata Rendra, “keluar ke desa-desa, mencatat sendiri semua gejala” karena ternyata “diktat-diktat hanya boleh memberi metode” dan pengetahuan atas permasalahan masyarakat hanya bisa didapat ketika kita membaur pada mereka. Sepertinya kita harus lebih sabar lagi, sabar di atas sabar, agar masyarakat mampu keluar dari ide-ide sempit pragmatisme politik dan keluar dari jebakan figuritas tiruan-tiruan Thanos.

sumber gambar: comicbook.com

Tapi seperti halnya kebenaran yang diterima Joker, bahwasanya akan tetap ada übermensch seperti Batman yang menolak membunuh meskipun di berbagai kesempatan ia didorong untuk melakukan itu. Akan tetap ada The Avengers yang walaupun kadang tidak jelas tujuannya tapi mereka merasa kuat ketika bersama. Akan tetap ada orang baik yang ditakdirkan oleh semesta. Dan waktu yang akan menjawabnya, seperti halnya Zarathustra dan Nietzsche yang berkata tuhan telah mati, sebelum mereka dapat membuktikan hal itu, ternyata kematian menghampiri mereka lebih dulu. Apakah akhir eksistensi seorang übermensch adalah kematian? Dan faktanya memang sekarang übermensch terjebak di dunia yang fana.

    Referensi
Nietzsche, Friedrich. (2010). Thus Spoke Zarathustra. Naples: Feedbooks.       
Rendra, WS . (1993). Potret Pembangunan dalam Puisi. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.

Comments

  1. Replies
    1. Rapi, hati-hati, dan penuh analisis. Begituu.

      Delete
    2. Setuju gk kalau Thanos jadi Presiden?

      Kalau udah chaos, setengah populasi Jawa disappear 😅

      Delete
    3. Menarik, tapi sepertinya usaha pelenyepan semacam itu pernah terjadi whahaha *auto hilang

      Delete
    4. Hehe untung bukan Orla/Orba, kalau iya kita auto tinggal nama ini.

      Delete
  2. Thanos klau jd presiden, pastinya nanti banyak ulama atau ahli agama bahkan masyarakat yg mengikutinya disinyalir teroris dijadikan objek killing field alibinya sudah miskin kurang bermanfaat hidupnya maka stone of life nya beraksi selanjutnya pupus terhempas angin)...

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts