Menikmati Lontong Kari Permana dan Larik Aan Mansyur

9 Feb. 2020
Lontong Kari Permana

PAGI itu rombongan pria kekar terlihat panjang menguntai di tanjakan, dari tulisan yang tertera di belakang kaosnya mereka adalah sebuah perguruan silat. Aku tidak tahu apakah mereka benar-benar sedang lari pagi, atau dalam perjalanan menuju suatu tempat di atas tanjakan. Saat berkendara di samping mereka dengan gigi dua, mendadak aku merasa dilema: antara merasa puas sekaligus merasa lemah.

Akhir-akhir ini memang aku agak sentimentil. Apa sebab jerawat yang sering muncul tanpa izin di pipi kananku. Ataukah karena lagu Anggur Merah Meggy Z. yang sayup-sayup terdengar di tepi jalan ini. Entahlah.

Syahdan, aku pun melewati mereka satu per satu hingga di ujung barisan depan, terlihat pria bercukuran cepak sedang merekam kegiatan itu. Dia berjalan dengan mundur dan sesekali meneriakkan semangat dengan lantang.

Namun di benakku justru tergambar tentara-tentara Jepang sedang berseru, ”Tenno Heika Banzai!” kala mereka berlari masuk pada tank-tank musuh dan meledakkan granat. Mencoba mengusir bayangan itu, kupaksa sepeda motor melaju lebih cepat sehingga terdengar suara mengerikan pada mesin jadul itu.

Hingga akhirnya sampailah aku pada suatu perempatan. Tujuanku berada di sebelah kanan dari arah bawah. Tanjakan ini sering disebut tanjakan Permana, hampir wahana seluruh jalan ini memang tanjakan.

Jika lurus terus hingga ke ujung jalan kita akan mendadak tiba di Cisarua. Tapi yang membuat jalan ini istimewa - bagiku - adalah jajanannya yang murah dan enak.

Berbeda dengan Gegerkalong yang padat dan bervariasi, tanjakan Permana Cimahi lebih banyak menawarkan kuliner yang harus dinikmati di tempat walau ada juga jajanan dengan sistem grab and go. Dari pengamatanku, tempat-tempat makan di Permana akan penuh saat orang-orang mencari sarapan.

Lalu saat malam hari orang akan sibuk lalu lalang mencari penganan seperti roti bakar, martabak, kue pukis, dll. Oleh karenanya jalan ini baru benar-benar sepi saat tengah malam, kecuali daerah perbatasan Cisarua dan tempat orang berburu citylight di atas tanjakan memang selalu sunyi.

Kembali pada perempatan, kemudian seperti orang Indonesia lainnya aku memarkirkan sepeda motor sekenanya. Di hadapanku kini ialah kedai berisi dua meja dan beberapa kursi plastik. Tempat itu menjual menu-menu sarapan: bubur ayam, lontong kari, dan nasi kuning. Kendati sudah kucoba menu lain, aku sudah kadung jatuh hati pada lontong kari di tempat ini. Secara jujur aku mengakui inilah lontong kari terenak sejauh ini.

Bagaimana ya. Aku merasa ada terlalu banyak yang harus disingkap untuk menjelaskannya. Hanya di negara ini dengan uang kurang dari satu dollar, kita bisa mendapakan lontong, kuah kari, sepotong daging ayam, cacahan sayur segar, dan teh hangat sepuasnya. Mari kita mulai dengan bahan utama: lontong. Jika mampir kala masih sangat pagi, lontong yang diselimuti daun jati (aku tidak yakin tapi aromanya mirip) itu akan terasa masih hangat.

Akan ada juga yang datang hanya untuk membeli lontong di tempat ini. Irisan lontong lonjong akan memenuhi piring pesanan. Teksturnya tidak akan berubah lembek saat terendam kuah kari, tapi tetap lembut. Saat kita menciduk dengan sendok, campuran keduanya terasa sedikit manis namun segera saling mengimbangi. Lidah kita menjadi linglung, namun diam-diam menikmati sendok demi sendok. Tiba-tiba menyembul, aku teringat larik-larik M. Aan Mansyur, pada Melihat Peta.
Kau, entah di mana, membaca
catatan yang kutulis dan terlambat
tiba.

Hari terakhirku jadi hari pertama
bagimu. Kesedihanku terbakar
menjadi abu. Kautumbuh menjadi
pohon yang pucuk-pucuknya
hendak menyentuh biru angkasa

Bagaimana dalam sajak tersebut dan sepiring lontong kari ini, aku seperti sedang mendengar orang berceloteh. Tak ada niat memotong obrolan. Tak ada keinginan menambah apapun pada kuah kari ini. Semuanya berjalan begitu saja. Suap demi suap. Kata demi kata. Kujalani dengan khidmat.

Kuah kari yang menggenangi isi piring memang wangi, tapi tidak menyengat. Kekuatan utama kuah kari ini justru bagiku terletak pada bawang goreng yang di tempat lain hanya berfungsi sebagai ornamen tambahan. Sepertinya bawang goreng yang ditaburkan pada kuah kari tersebut adalah buatan sendiri sang pemilik kedai. Bentuknya bagus; rasa pahitnya yang pas adalah penggugah selera.

Tidak terdapat minyak yang berlebihan juga pada bawang goreng tersebut sehingga warna kuah kari tetap cantik. Begitu pun pada puisi. Metafor sederhana namun betul-betul direncanakan oleh penyair tentu lebih berguna ketimbang metafor megah namun hasil daur ulang.
Nanti malam, aku tak mau
menutup mata jendela. Akan aku
biarkan ia menatap mata bulan,
tempat barangkali kau menitip
rahasia.

Begitulah. Selanjutnya adalah irisan sayuran dan sepotong daging ayam. Daging ayamnya direbus bersama kuah kari, ini menjadikan ia lembut dan bumbu pun meresap. Walau tidak ada yang istimewa, dua aksen ini sangat cocok dengan kerupuk dan perut yang lapar. Tapi aku bersungguh-sungguh bahwa lontong kari ini sebagai satu kesatuan memang sulit ditandingi.

Selepasnya cobalah teh hangatnya. Astaga! Mungkin perhatian terhadap detail inilah yang membuat kedai ini selalu ramai. Salah satunya pada teh yang mereka sajikan. Teh hangat di kedai itu memenuhi tiga kriteria ginastel (legit, panas, kentel). Panasnya pun adalah panas yang cepat padam.

Entah bagaimana, mungkin cara memasak teh sang pemilik yang tidak kutahu berpengaruh pada temperaturnya. Dengan cepat kita pun serasa sangat puas setelah menjadikan teh tersebut sebagai penutup acara makan di kedai itu. Tak lebih. Tak kurang sesuatu pun.

Rasa puas atas pengalaman membaca puisi barangkali menawarkan hal yang berbeda. Kepuasan kita pada puisi tidak melulu atas keseluruhan makna yang didapat. Seringkali hanya berupa aftertaste apa yang tertinggal pada lidah dan atau pikiran. Begitulah kiranya Aan Mansyur memilih mengakhiri bait-baitnya.
Sementara yang menetap di
luar aku, segalanya dendammu.
Memendam dendam, kata ibuku,
seperti meminum segelas racun
dengan harapan membunuh orang
lain.

Aku tidak ingin mendengar kabar
pemakamanmu. Biar tubuhku
dan seluruh isinya yang tercuri.
Hiduplah kau.

Setelah membayar, aku ingin segera bertanya banyak hal pada pemilik kedai. Perihal lontong kari yang enak itu. Tapi di detik-detik terakhir kuputuskan mengurungkannya. Bukankah tak semua pertanyaan ada jawabnya. Dan kita pun tak selalu siap menerima jawaban. Lebih-lebih ini lontong kari yang enak, saya tak mau merusaknya dengan mengetahui segala rahasia yang seharusnya tetap menjadi rahasia belaka.

Biarlah lontong kari itu tetap menjadi larik-larik yang selalu menimbulkan pertanyaan setiap kali saya menikmatinya.

Comments

  1. Terlambat memang, larik lontong kari. Dimana pun awal bertemu, tak memungkiri kesamaan rasanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lontong kari paling enak daerah Jabar. Percaya padaku.

      Delete

Post a Comment

Popular Posts