Awal Restorasi Meiji dan Masyarakat Jepang

Hachimaki (Japanese Headband)

Awal kesadaran menuju Restorasi Meiji ditandai setidaknya oleh dua hal. Pertama semboyan untuk kembali kepada kaisar (Sonno) dan pengusiran terhadap orang-orang biadab (Joi). Seruan ini digaungkan terutama dari Choshu dan Satsuma oleh para pengikut kelas samurai yang telah melepaskan ikatan feodal mereka lalu menjadi ronin, serta para han (sejenis bupati) yang juga bergabung.

Kemudian hari slogan-slogan ini akan membawa Jepang kepada suatu babak baru. Menjadikannya bangsa yang lambat laun bermimpi menjadi pemimpin, pelindung, bahkan cahaya Asia sekaligus. Narsis memang, tapi setidaknya mereka pernah mencoba.

Sejarah peradaban Jepang memang rangkaian pertarungan dan pertumpahan darah. Menurut kitab Kojiki (catatan kuno), Kaisar Jepang adalah keturunan Amaterasu Omikami, ya dewa matahari. Keturunannya, Ninigi no Mikoto diperintahkan turun ke bumi untuk mengatur pemerintahan, tempat pertama kali ia menyentuh bumi dikisahkan adalah Pantai Timur Kyushu. Kemudian cucu Ninigi yang bernama Kan Yamato Iwarehiko no Mikoto dengan anak buahnya menyusuri pantai hingga sampai di Yamato (Nara Prefecture sekarang) lalu memulai pemerintahan dengan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Jinmu. Jinmu Tenno!

Itulah bagian paling awal peradaban Jepang yang disebut sebagai zaman atau era Yamato. Lalu sejak saat itu peperangan mulai akrab dengan orang-orang Jepang. Dari mulai keperluan mempersatukan negara di bawah kekaisaran, mempertahankan kekuasaan dan tanah, merebut jabatan, hingga masalah menguji kesetiaan, hampir semuanya jika kita baca selalu berakhir dengan konflik berdarah.

Hal itu membuat bangsa Jepang memiliki tipikal masyarakat yang militeristik. Setidaknya itu bertahan hingga tahun-tahun Perang Asia Timur Raya berkobar. Bahkan beberapa saat sebelum Restorasi Meiji digulirkan, masyarakat Jepang masih dipimpin oleh sistem feodal-militer yang disebut Bakufu atau keshogunan. Sistem kekuasaan militeristik ini sangat lama memerintah di Jepang. Secara jelas dimulai kala Minatomo Yoritomo membasmi keluarga Taira di akhir abad dua belas.

Tapi bibit itu telah dimulai sejak era keluarga Fujiwara mengendalikan istana. Konsep sederhananya, keluarga yang terkuat akan memberi tekanan pada pihak istana sehingga mampu turut campur pada pemerintahan. Kekuatan di sini meliputi banyaknya pengikut, harta kekayaan dan shoen (tanah bebas pajak), kuatnya pengaruh di daerah, dll. Kekuasaan itu dilanggengkan dengan semacam taktik dinasti keluarga. Misalnya diangkatnya wali atau penasihat untuk kaisar, siasat untuk menikahkan anak perempuan dengan kaisar, dan penempatan posisi strategis harus dari kalangan keluarga yang sedang berkuasa.

Sehingga praktik nepotisme menjadi lestari, agar dinasti kekuasaan yang telah dibangun bertahan lama. Bagaimana cara menghentikan praktik itu? Ya dengan membunuh keluarga yang sedang berkuasa. Tapi sayangnya pihak yang membunuh biasanya akan menggantikan posisi yang terbunuh sebagai keluarga yang berkuasa. Lalu melestarikan nepotisme lagi seperti pendahulunya. Lalu terjadi pembunuhan kembali. Lalu berkuasa lagi. Lalu pembunuhan lagi. Begitu siklusnya. Lingkaran setan.

Inilah mengapa dua seruan tuntutan di awal sangatlah esensial. Ajakan kembali kepada kaisar bukan saja bermakna dukungan pragmatis serta menjelaskan posisi berdiri di belakang kaisar. Tetapi juga mengembalikan kekuasaan negara sepenuhnya kepada kaisar yang terlegitimasi sebagai penguasa; keturunan dewa matahari pada thariqah agama Shinto. Sebab telah sejak lama kaisar hanya ditempatkan sebagai simbol negara (atau persatuan) dan dibatasi untuk mengurusi perkara keagamaan saja.

Dan seruan mengusir orang-orang biadab bukan semata tertuju pada keluarga Tokugawa yang sedang berkuasa. Namun kemungkinan juga tertuju pada pengaruh-pengaruh asing yang mulai mengubah budaya masyarakat Jepang. Kendati saat itu negara masih tertutup akibat pemberontakan di Shimabara karena pelarangan agama Kristen yang sedang menyebar.

Maka kita bisa memaklumi, masyarakat Jepang yang militeristik hadir karena timbul tenggelamnya peradaban yang demikian. Pasca Restorasi Meiji pun karakteristik ini tidak bisa hilang sepenuhnya. Sisi baiknya jiwa prajurit dan semangat pantang menyerah masyarakat Jepang terasa hingga hari ini. Berbeda sekali dengan tipikal masyarakat yang sebelum Perang Paregreg mereka tak perlu menanam padi, karena hujan pun sudah cukup mengairi tanah subur kepulauannya. Masyarakat yang kebanyakan malah jadi budak kuli di negeri sendiri sejak zaman Portugis hadir di Selat Malaka.

Tapi agaknya ada sebuah transformasi sosial semenjak Perang Dunia Kedua berakhir di Jepang, khususnya sikap mereka terhadap pertempuran. Kekalahan yang memilukan membuat mereka sadar bahwa ternyata perang yang selama ini mereka gemari ternyata tak menghasilkan apa-apa - nirfaedah - apalagi bagi pihak yang kalah. Memang di dunia (apalagi setelah Perang Vietnam) muncul gerakan muda-mudi yang antiperang.

Flowers generation merujuk pada muda-mudi yang memilih tak mati di medan tempur namun mati karena overdosis narkotika. Ironis memang. Di Jepang sendiri sekitar dua puluh tahunan semenjak ledakan bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, mereka berbenah untuk menggelar Olimpiade Musim Panas. Mereka ingin menampilkan sebuah bentuk Jepang yang baru. Bangsa yang tak lagi membawa katana atau senjata ke jalan-jalan kota.

Anak-anak Jepang yang lahir saat perang di Pasifik berkecamuk tersebut pada akhirnya membawa semangat antiperang itu bersama karya-karya mereka, terutama kala mereka telah menjadi pakar di dalamnya. Ini juga terjadi kepada generasi setelahnya yang mendapati cerita-cerita mengerikan dari orang tua mereka. Maka muncul generasi antiperang itu di Jepang.

Contoh lain kita bisa telisik hal itu dari kecenderungan dunia animasi dan komik modern, dimana Jepang menjadi salah satu industri terbesarnya. Para penikmat animasi milik studio legendaris Studio Ghibli pasti sudah tidak heran dengan ide antiperang ini. Gagasan moral yang selalu tersirat maupun tersurat pada karya-karya maestro Hayao Miyazaki (lahir tahun 1941) ataupun Isao Takahata (lahir tahun 1935). Karya-karya milik Studio Ghibli selalu membuat kita berpikir dan merenung di akhir cerita, "Untuk apa semua pertumpahan darah ini?"

Atau pada tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Masashi Kishimoto (lahir 1974). Walau tema karyanya adalah pertempuran di dunia shinobi, kita selalu diberi tahu bahwa keahlian tertinggi dalam bertempur adalah justru ketika mampu mengalahkan musuh tanpa melewati pertumpahan darah. Kita bisa mengalahkan musuh apabila telah mengerti kesalahan pola pikirnya. Selepasnya itu kita bisa serta merta asyik-masyuk untuk menginsepsi keyakinan kita hingga musuh menjadi paham dan menyerah. Gagasan yang sangat terpengaruh konfusianisme, dan tentu secara halus antiperang.

Adapula film (sebelumnya komik) Barefoot Gen yang dengan lugas menggambarkan penderitaan dan kengerian sebab perang, utamanya setelah bom atom di Hiroshima dijatuhkan. Sudut pandang kisah diambil dari seorang anak yang memang pada kisah nyata terselamatkan secara ajaib dari bencana kemanusiaan itu. Walaupun jenaka, sepertinya film ini tidak cocok untuk anak kecil yang kurang siap mentalnya. Penggambaran manusia yang masih hidup namun telah menjadi mayat itu memang terlampau mengerikan sepertinya.

Protes-protes pun secara halus muncul lewat medium yang lebih elegan, tidak lagi melulu dengan pedang dan teriakan. Karya-karya sastra dan sastrawan Jepang yang diakui dunia muncul pula di saat-saat ini. Di sisi lain, misalnya lagu Ue o Muite atau Sukiyaki Song (yang awalnya kisah protes pelajar) menempati posisi puncak tangga lagu dunia. Lagu yang sangat fenomenal dengan lirik yang haru.

Ini menunjukkan Jepang telah menjadi bangsa dengan tingkat peradaban yang tinggi pasca kesadarannya terhadap pertumpahan darah berubah. Baik dari segi kebudayaan maupun ekonomi, Jepang tumbuh secara pesat sejak saat itu. Ada semangat membangun kembali yang begitu kental.

Kendati masih banyak kabar mengenai geng-geng kejam di Jepang semacam Yakuza dsb., tetapi kiranya kita bisa menyimpulkan bahwa bagaimana pun pertumpahan darah atas keserakahan terhadap hal-hal duniawi memang tidak pernah membawa kebaikan pada akhirnya. Kemudian bangsa Jepang bisa menjadi salah satu contoh bagi wajah kemanusiaan untuk bisa berubah ke arah yang lebih manusiawi.

Sebuah contoh yang lumayan berhasil walau kenyataannya tetap ada dampak di kemudian hari atas transformasi sosial pasca Perang Dunia Kedua itu. Seperti dampak sosial yang terjadi hari ini; banyaknya orang tua tunawisma dan menurunnya angka kelahiran karena masyarakat yang semakin renggang bahkan cenderung apatis. Rasa enggan membela negara (tepatnya kekuasaan yang dilembagakan) lewat konfrontasi senjata itu ternyata menimbulkan juga keengganan untuk ikut campur pada urusan orang lain. Justifikasi atas menghilangnya kohesivitas pada satuan masyarakat di sana. Hidup terkesan menjadi sendiri dan individualistis.

Olimpiade Musim Panas di Jepang tahun ini sepertinya akan ditunda karena wabah yang masih melanda, tapi dunia pasti sedang menunggu. Hal seperti apa yang akan ditunjukkan Jepang (lagi) kepada dunia. Setelah gelombang semangat menaklukan dan prajurit-prajurit bunuh dirinya. Setelah gagasan perdamaian dari karya sastra, film, lagu, dan animasi. Setelah teknologi dan inovasi tanpa henti. Semua orang mencoba menerka-nerka. Termasuk mungkin kita yang telah tiba di akhir tulisan ini. Tiba-tiba ada yang berteriak dari ujung barisan, "Tenno heika! Banzai!"

Comments

Post a Comment

Popular Posts