Hanami

Anakku,
Pagi ini adalah hari kesekian musim tak menentu. Dingin dini hari lebih menusuk tulang, sedang terik matahari siang membuat debu dan air lekas menguap. Maka kutulis surat ini semata teringat senyum kecilmu. Dan betapa aku merindukanmu.

Kutulis surat ini di perjalanan menuju kota yang entah. Kota yang baru kudengar. Nama tempat yang sewaktu kecil mungkin hanya akan kutahu lewat peta besar di belakang kelas. Atau di buku pengetahuan umum bernama atlas. Aku menunggu penerbangan di mushala bandara. Di sana tangis tawamu masih sayup terdengar di telingaku.

***

Anakku yang manis,
Kau lahir dari seorang ibu yang sabar. Mengandung dan melahirkan bukanlah --tidak akan pernah menjadi-- ihwal yang ringan. Perempuan diciptakan dengan kemampuan menanggung rasa sakit yang tak masuk akal. Lalu melahirkan, adalah rasa sakit yang berumpak dan bertambah-tambah beratnya. Bahkan sesudahnya hingga berbilang bulan, tubuh ibumu tak lekas kembali seperti semula. Laki-laki sebagai makhluk purba, bagaimana pun takkan pernah mengerti rasa sakit ini.

Sehingga jika suatu hari, kau temui perilaku yang tak kau sukai dari ibumu janganlah lekas marah padanya. Sebagai gantinya kau boleh melampiaskannya padaku. Adakalanya mungkin di masa depan, saat beralih dan meninggalkan tubuh remaja, perasaanmu lebih sering kecewa dari pada bahagia--termasuk kepada ibumu. Maka bersama surat ini, aku memohon agar kau bisa menjaga hati ibumu yang hanya sekeping itu. Tataplah wajahnya dengan takzhim selalu, rendahkanlah suara di hadapannya.

Sebab anakku, hati ibumu adalah bohlam tungsten yang dengan pijarnya maka hangat dan teranglah rumah kita senantiasa.

***

Menunggu kelahiranmu adalah kegiatan mendebarkan kami setiap hari sejak Lebaran berlalu. Gerakmu di dalam rahim semakin membuat ibumu cepat lunglai. Kakinya membengkak mungkin dua kali dari biasanya.

Sempat di usia kehamilan tujuh bulan, posisimu berbalik sehingga menyulitkan bahkan menutupi jalan lahir. Alhamdulillah, mendekati hari perkiraan lahir dirimu semangat bergerak, membuat posisimu di dalam rahim kembali aman dan siap menyambut hari perkiraan lahir. 

Di bulan selanjutnya dokter menjelaskan bahwa air ketuban yang melindungimu sudah menyusut dan ari-ari yang sering kau mainkan itu telah mulai saling melekat. Kontraksi palsu sudah tak terhitung terjadi. Terkadang aku panik, bukan karena takut tapi lebih kepada bingung harus memberikan respons seperti apa saat kontraksi asli tiba.

Sabtu pagi ke sabtu pagi lainnya, kami semakin merindukanmu. Kunjungan kami untuk melihatmu dari dalam rahim dirapatkan, sebulan sekali menjadi satu pekan sekali. Ada beberapa pertimbangan saat mendekati hari perkiraan lahir, kami berikhtiar menjemputmu agak tak terlalu lama kita terpisah. Dari mulai akupuntur, yoga di pagi hari, hingga berjalan naik dan menuruni tangga penyeberangan sudah ibumu lakukan. Lalu kontraksi berujung bukaan kedua itu pun tiba tepat setelah ibumu mendapatkan rangsangan induksi alami berupa pijatan tradisional di punggungnya. Aku berdebar.

Sudah menjadi keyakinan ibumu untuk melalui proses persalinan dengan normal tanpa operasi. Keyakinan yang tak bisa aku bujuk sama sekali. Sehingga opsi rumah sakit yang selalu menempatkan dokter amatiran saat dokter sesungguhnya sibuk, tentu telah kami elminiasi. Maka kami berangkat menuju bidan pilihan ibumu. Tetapi sembari meredakan kepanikan kami, bidan menyuruh kami kembali pulang. Dia menyuruh kami kembali saat kontraksinya tak tertahankan. Berlalu satu malam, esok hari kami kembali ke bidan dan memesan lantai yang paling besar. Agar beberapa ruangan bisa dijadikan tempat istirahat keluargamu yang berdatangan. 

Namun ternyata kelahiranmu bukanlah tanpa halangan. Bukaan pasif berlangsung lama, hingga satu hari lamanya. Membuat ibumu nampak lelah, namun dia tak mau menyerah. Keesokan harinya setelah berendam sesaat pada air hangat, ditemani oleh dua bidan yang takkan aku lupakan kejadiannya, kami berempat berusaha dengan sedemikian cara untuk menjemputmu lahir dan melihat dunia. Hingga tangisanmu itu, membuatku dan ibumu menangis juga. Menangis lega dengan segala perasaan yang takkan terjamah oleh kata-kata. 

***

Anakku,
Barangkali di masa depan kau akan bertanya apa itu hidup? Bagaimana menjalaninya? Dan pertanyaan lain yang membuat kepalaku tiba-tiba terasa gatal. Lalu bagaimana dengan aku dan ibumu? Kami selalu menginginkan hidup yang selaras dengan alam. Hari-hari yang tenang sebagai manusia merdeka dan makhluk Tuhan.

Alam bukan semata tempat melarikan diri seperti para eskapisme ritualkan. Alam bukan pula alat pemuas keserakahan. Ingatlah ini manisku: satu bumi lebih dari cukup untuk ditinggali semua umat manusia. Tetapi satu bumi pastilah takkan cukup, untuk memuaskan hasrat satu kepala manusia. 

Alam adalah bukti paling dekat tentang adanya Allah. Alam diciptakan dengan rinci dan amat besar sekaligus kecil--lebih dari yang bisa kita bayangkan. Dan kami ingin menghidupi hidup yang senantiasa menginsafi hal demikian.

Sehingga aku dan ibumu amat terpesona dengan manusia-manusia yang bisa duduk seharian hanya untuk menikmati mekarnya bunga di musim semi. Mereka seolah berhenti patuh terhadap waktu dan duduk sejenak untuk menafakuri ciptaan Allah. Sungguh kebebasan yang amat mahal.

Aktivitas demikian barangkali akan kita temukan juga di surga kelak. Ketika ahli surga beribu tahun hanya terduduk menikmati keindahan bunga-bunga surga yang takkan pernah kita temui bandingannya di dunia. Mereka menikmatinya tanpa terburu waktu. Tanpa perlu makan dan minum. Tanpa perlu tidur.

***

Syahdan, Hanami. kau lahir di hari Jum'at saat bulan Mei telah berlalu dua belas hari. Pada sebagian negara Asia yang mengalami empat musim, kala itu musim semi tengah mencapai puncaknya. Di Jepang orang-orang berburu melihat keindahan mekarnya bunga sakura yang dinanti sejak awal Maret.

Bunga sakura yang merupakan bunga pohon ceri dan masih berkeluarga dengan pohon plum, persik atau bunga ume mekar paling awal di daerah selatan. Lalu beringsut merambat ke utara sedikit demi sedikit. Sehingga saat kau lahir pada Sakura Zensen hanya tinggal beberapa taman saja di daerah utara khususnya Hokkaido yang masih bermekaran sakura di dalamnya.

Kau lahir di akhir perayaan itu. Perayaan manusia yang bagaimana pun fitrahnya adalah untuk hidup selaras dengan alam. Aktivitas menikmati mekarnya bunga sakura itu disebut  O Hanami--menafakuri betapa mengharukannya bunga merah muda yang mekar lalu berjatuhan puitik tertiup angin muda. Lansekap indah yang barangkali manusia (setelah segala hal yang ia timpakan pada dunia) tak layak melihatnya.

Kami berdebar menunggu kelahiranmu. Debar yang sama seperti saat orang-orang menunggu musim semi. Lalu saat kau terlahir dan menangis, aku melihatmu terpaku. Terharu seperti jutaan orang melihat mekarnya bunga sakura tahun ini. Semata pengembara yang melihat bunga surga yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Indah dan megah.

Mekarlah dengan sabar anakku yang manis. Aku dan ibumu mencintaimu tanpa musim.

12 Mei 2023

فَتَبَارَكَ ٱللَّهُ أَحْسَنُ ٱلْخَٰلِقِينَ

Telah lahir anak kami yang pertama pada Jum'at, 21 Syawal 1444 H/ 12 Mei 2023, pukul 14.08 WIB.

Dengan asma Allah 'Azza wa Jalla, teriring doa di dalamnya kami sematkan nama *Hanami Tsaqifa Qalami* sebagai azimat selama hidupnya.

Semoga senantiasa menjadi pelanjut sujud ibu bapaknya, berakhlak ranggi terpuji, dan mampu menjadi perempuan yang berhiaskan iman dalam kesehariannya.

Aamiin Yaa Mujiibassaailiin

Comments

Popular Posts