Skip to main content

Posts

Featured

Hanami

Anakku, Pagi ini adalah hari kesekian musim tak menentu. Dingin dini hari lebih menusuk tulang, sedang terik matahari siang membuat debu dan air lekas menguap. Maka kutulis surat ini semata teringat senyum kecilmu. Dan betapa aku merindukanmu. Kutulis surat ini di perjalanan menuju kota yang entah. Kota yang baru kudengar. Nama tempat yang sewaktu kecil mungkin hanya akan kutahu lewat peta besar di belakang kelas. Atau di buku pengetahuan umum bernama atlas. Aku menunggu penerbangan di mushala bandara. Di sana tangis tawamu masih sayup terdengar di telingaku. *** Anakku yang manis, Kau lahir dari seorang ibu yang sabar. Mengandung dan melahirkan bukanlah --tidak akan pernah menjadi-- ihwal yang ringan. Perempuan diciptakan dengan kemampuan menanggung rasa sakit yang tak masuk akal. Lalu melahirkan, adalah rasa sakit yang berumpak dan bertambah-tambah beratnya. Bahkan sesudahnya hingga berbilang bulan, tubuh ibumu tak lekas kembali seperti semula. Laki-laki sebagai makhluk purba, bagaim...

Latest Posts

Menjadi Ayah

Sekitaran Penyair dan Puisi

Berkunjung ke Maskumambang buat Ibu

Sukiyaki Song

Sekitaran Esai*

Menikmati Lontong Kari Permana dan Larik Aan Mansyur